PMI Manufaktur Mengalami Kenaikan, Menandakan Ekonomi Indonesia Mulai Bangkit

putri Selasa, 4 Agustus 2020 | 13:26

Berita Golkar, Jakarta – Purchasing Manager’s Index (PMI) atau Indeks Manajer Pembelian Manufaktur Indonesia Juli 2020 berada pada angka 46,9 atau naik dibandingkan Juni 2020 yang angkanya 39,1.

Jika ingin kembali ke level 51,9 seperti pada Februari 2020 atau sebelum terjadinya pandemi, Indonesia perlu menyehatkan sisi permintaan, menurut Menteri Perindustrian Agus Gumiwang.

“Tentu ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita agar supaya bisa kembali ke 51,9, walaupun memang kita tidak bisa pungkiri bahwa semua itu tergantung banyak hal,” kata Menperin pada web seminar bertajuk ‘Relocating Investment to Indonesia in the Time of Covid-19″ di Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2020.

BACA JUGA  Menperin : Pastikan Tidak akan Menaikan Tarif Cukai Rokok Tahun 2019

Agus menyampaikan, hal yang paling penting adalah bagaimana Indonesia dapat menyehatkan sisi permintaan pasar, sehingga penyerapan terhadap produk-produk industri manufaktur di Indonesia bisa terjadi.

Angka PMI pada Juli 2020 merupakan level tertinggi sejak Februari lalu, yang membuktikan bahwa operasional sektor industri di dalam negeri perlahan mulai pulih.

Agus optimistis, PMI Manufaktur akan terkatrol kembali di titik ekspansif (level 50) seperti yang dicapai pada Februari di poin 51,9.

BACA JUGA  Dedi Mulyadi Minta Kader Golkar Perbanyak Anak dan Ibu

“Paling tidak, angka-angka yang ada sudah bisa menjadi indikator bahwa perekonomian kita mulai bangkit kembali,” tuturnya.

Menurutnya, ini merupakan bukti lain bahwa ekonomi Indonesia mulai membaik adalah pertumbuhan investasi di sektor industri.

“Pemulihan juga kita bisa lihat dari nilai investasi industri pada semester I tahun 2020 yang mengalami kenaikan sebesar 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni dari Rp 104,6 triliun menjadi Rp 129,6 triliun,” ungkapnya.

BACA JUGA  Airlangga Hartarto Kutuk Keras Aksi Terorisme di Surabaya

Bahkan, pada periode Januari-Juni 2020, industri pengolahan nonmigas masih konsisten menjadi sektor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor nasional.

Total nilai pengapalan produk sektor manufaktur mampu menembus hingga US$ 60,76 miliar atau menyumbang 79,52 persen dari keseluruhan angka ekspor nasional yang mencapai US$ 76,41 miliar.

Sumber : Tempo.com

Loading...

Baca juga

Golkar Harus Jadi Panutan dan Contoh Masyarakat Lawan Pandemi Covid-19

Berita Golkar, Jakarta – Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto meminta kepada calon-calon kepala daerah yang …